MENYELAMATKAN JALUR BUSWAY Print
Jalur Khusus bus (busway) di Jakarta dibangun dengan tujuan untuk menciptakan system transportasi umum massal yang aman, nyaman, dan cepat karena mereka tidak mengalami hambatan dalam perjalanan. Konsekuensi dari kebijakan itu adalah jalur busway menjadi eksklusif dari kendaraan non busway (baik kendaraan pribadi maupun umum). Tapi sejak keluarnya kebijakan buka tutup bagi jalur busway untuk dapat dimasuki oleh kendaraan non busway sejak tanggal 12 November 2007, jalur busway, terutama Koridor 2 – 7 menjadi tidak lancar dan operasional Busway Transjakarta pun terganggu. Dilaporkan bahwa mix traffic itu mengakibatkan jumlah penumpang Busway Transjakarta merosot mencapai 30%.

Kerugian yang diterima penumpang adalah waktu tempuh dalam satu koridor menjadi tambah lama dan lama menunggu di halte juga lebih lama. Survey yang dilakukan oleh INSTRAN pada bulan Januari 2008 (terlampir) menunjukkan data bahwa banyak penumpang harus menunggu busway mencapai di atas lima menit, bahkan di atas 10 menit. Sedangkan waktu tempuhnya, Koridor VI dari Ragunan – Dukuh Atas atau sebaliknya dari Dukuh Atas – Ragunan bisa mencapai 1:30 jam.

Jumlah pengendara pribadi yang parkir kendaraannya di terminal ujung, seperti Ragunan dan untuk selanjutnya naik busway juga mengalami penurunan, sejak diterapkan kebijakan mix traffic, seperti ditunjukkan oleh survey INSTRAN di bawah ini. Sebab orang menjadi merasa tidak tertarik untuk naik Busway Transjakarta, mengingat sama-sama macet. Berdasarkan beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa kecepatan tempuh merupakan nilai pertama yang menjadi dasar seseorang memutuskan naik busway Transjakarta. Ketika aspek itu tidak ada lagi, maka Busway Transjakarta menjadi tidak menarik lagi untuk dijadikan pilihan.

Tabel Jumlah Kendaraan Pribadi yang Parkir di Halte Ragunan dan Pindah ke Busway

 

No

Type of vehicle

 27-9- 2007 Amount

 29-2- 2008 Amount

Notes

1

Private car

192