INSTRAN.org

  • Indonesian
  • English
Baner

Terobos Perlintasan, Metromini Dihajar Kereta

INSTRAN.org - Lantaran nekat menerobos pintu perlintasan kereta api (KA), sebuah Metromini S 640...

PP Mobil Murah Bikin Jakarta Tambah Macet

INSTRAN.org - Kementerian Perindustrian menerbitkan peraturan pemerintah (PP) mengenai program mobil...

Tarif Angkutan Siap Naik hingga 35 Persen

INSTRAN.org — Pihak Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) mengaku siap...

Tarif Taksi Bogor-Jakarta Rp 150.000, KRL AC Hanya Rp 5.000

INSTRAN.org - Pengguna KRL Commuter Line Jabodetabek akan dapat kemudahan pasca penerapan tarif...

100 Kios di Stasiun Kranji Dibongkar

INSTRAN.org — Sebanyak 100 kios yang berada di Stasiun Kranji telah ditertibkan. Selain menjadi...

  • Terobos Perlintasan, Metromini Dihajar Kereta

    Selasa, 18 Juni 2013 09:05
  • PP Mobil Murah Bikin Jakarta Tambah Macet

    Selasa, 18 Juni 2013 09:01
  • Tarif Angkutan Siap Naik hingga 35 Persen

    Selasa, 18 Juni 2013 08:59
  • Tarif Taksi Bogor-Jakarta Rp 150.000, KRL AC Hanya Rp 5.000

    Selasa, 18 Juni 2013 08:57
  • 100 Kios di Stasiun Kranji Dibongkar

    Sabtu, 15 Juni 2013 13:21
Press Realese - TUJUH TAHUN BUSWAY TRANSJAKARTA PDF Cetak E-mail

MENUJU SISTEM BUS RAPID TRANSIT YANG SESUNGGUHNYA 

Rekan-rekan jurnalis dan para pembaca website INSTRAN yang budiman. Tanggal 15 Januari 2011 merupakan ulang tahun keberadaan busway Transjakarta, karena tepatnya pada tanggal 15 Januari 2004 dimulai beroperasinya busway Transjakarta Koridor 1 jurusan Blok M – Kota sepanjang 12,9 km. Pengoperasian Busway Koridor I tersebut secara otomatis mengakhiri kontroversi tentang rencana pembangunan jalur khusus bus (busway) yang berlangsung sejak akhir 2002 sampai awal Januari 2004. Suksesnya pengoperasian Busway Koridor I tersebut seakan membebaskan Gubernur Sutiyoso dari caci maki publik dan sekaligus membuka jalan mulus bagi pembangunan koridor berikutnya.

INSTRAN (Institut Studi Transportasi) sebagai LSM transportasi yang sejak awal turut menjadi pendamping Pemprov DKI Jakarta dalam membangun busway, selalu melakukan evaluasi mengenai kinerja Busway Transjakarta, minimum setahun sekali bersamaan dengan peringatan keberadaan busway tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, di bawah ini adalah hasil evaluasi kami mengenai kinerja busway Transjakarta saat memasuki usia yang ketujuh tersebut. Semoga hasil evaluasi ini dapat menjadi bahan pemberitaan teman-teman jurnalis atau bahan bacaan/referensi bagi pembaca website INSTRAN. Bahan evaluasi ini dipersilahkan untuk dikutip untuk keperluan apa pun, yang penting adalah menyebutkan sumbernya guna menghargai jerih payah kami yang sudah bekerja keras melakukan evaluasi.

 

BRT Terpanjang

 

Bus Transjakarta atau yang lebih biasa disebut busway telah memasuki usianya yang ke-7, tepatnya pada 15 Januari 2011. Menyambut usianya yang ketujuh tersebut Busway Transjakarta menambah layanannya koridor IX dan X. Dengan beroperasinya Koridor IX dan X pada 31 Desember 2010 (yang seharusnya sudah beroperasi pertengahan 2008), Transjakarta kian memantapkan diri sebagai BRT terpanjang di dunia dengan 172,4 km.

 

Meskipun menjadi yang terpanjang di dunia, Transjakarta Busway baru bisa dibanggakan dalam hal kuantitas. Sedangkan dalam kualitas, Transjakarta belum dapat dibanggakan sebagai angkutan massal cepat (mass rapid transit) berbasis bus. Kapasitas sistem jaringan yang hanya 4,000 penumpang per jam per arah (passenger per hour per direction/ pphpd) terlalu kecil jika dibandingkan dengan moda sejenis di kota-kota besar lain di dunia, apalagi dibandingkan dengan Bogota yang menjadi induk belajarnya.
Kapasitas angkut di Bogota hingga 45.000 pphpd.

 

Memasuki usia yang ketujuh ini, Busway Transjakarta masih menghadapi berbagai persoalan yang sejak lahirnya sudah dikandung tapi belum terselesaikan tuntas. Permasalahan tersebut dipetakan dalam dua kurun waktu, yaitu dari kelahirannya sampai akhir tahun 2010 dan kedua adalah periode 2011 ini.

 

A. Sampai dengan 2010:

 

1. Pasokan BBG untuk armada yang masih terbatas sehingga menghambat pelayanan transjakarta

2. Belum dioperasikannya Koridor IX dan X sehingga jaringannya masih terbatas

3. Jalur yang tidak steril sehingga perjalanan bus kurang lancar

4. Ticketing-nya yang sebagian besar masih manual, sehingga mengesankan kurang profesional

5. Headway (jarak kedatangan bus satu dan berikutnya) yang tidak stabil

6. Masa tunggu penumpang yang terlalu lama, sehingga sering terjadi kasus penumpang sudah lama antre dan karena tidak tahun lalu meninggalkan antrean

7. Belum didikung oleh angkutan pengumpan yang terintegrasi

8. Belum tersedianya ruang kontrol yang dapat mengatur perjalanan busway secara canggih sehingga dapat terhindarkan terjadinya penumpukan penumpang di satu sisi dan bus datang beriringan dan mengantri di dermaga halte (bus bunching) di sisi lain.

 

B. Memasuki tahun 2011:

 

Memasuki tahun 2011 beberapa permasalahan yang melingkupi Busway Transjakarta
sedikit demi sedikit mulai terurai.

 

Pertama, beroperasinya Koridor IX dan X sejak 31 Desember 2011. Dengan beroperasinya Koridor IX dan X tersebut, performance Busway Transjakarta pun bertambah saat memasuki usianya yang ketujuh ini, karena jaringannya semakin panjang dan lebih lengkap.

 

Kedua, persoalan BBG juga sudah mulai terurai dengan keluarnya Kepmen ESDM No.2932/K/12/MEM/2010 yang menetapkan harga tunggal BBG untuk transportasi sebesar Rp. 3.100,- dan kemudian disusul dengan surat dari Pertamina mengenai pemberlakuan harga tunggal tersebut. Sampai tanggal 10 Januari 2011 ketika belum ada surat dari Pertamina persoalan BBG belum tuntas juga karena masih ada dua harga yang berbeda dan tentu operator akan mencari harga BBG yang lebih murah yang dijual oleh Pertamina.

 

Adanya keputusan harga tunggal BBG itu akan menyelesaikan masalah pasokan BBG untuk busway karena selama ini sudah terbangun empat SPBG baru seperti di Kampung Rambutan, Hek, Pinangranti, dan Rawa Buaya yang merupakan pool dan atau dilewati oleh jalur busway, sehingga makin sedikit waktu busway yang terbuang untuk pengisian BBG (empty kilometer). SPBG baru tersebut belum beroperasi karena pada saat itu tidak harga tunggal sehingga para pengusaha SPBG tidak ingin direpotkan oleh masalah birokrasi. Tapi dengan adanya harga tunggal, mereka menyatakan akan segera mengoperasikan SPBG barunya.

 

Ketiga, jalur busway yang makin steril sehingga perjalanan Busway Transjakarta semakin lancar. Kelancaran jalur busway ini dapat mendorong peningkatan penumpang seperti yang terlihat jelas di Koridor VI (Ragunan – Dukuh Atas2) yang tiap pagi penumpangnya sekarang penuh terus sampai jam 09-an.

 

Jalur busway yang makin steril dapat meningkatkan kinerja Busway Transjakarta secara signifikan, sehingga secara otomatis dapat meningkatkan kualitas pelayanan Busway Transjakarta.

 

Persoalan-persoalan lain yang tercatat di butir A di atas hingga akhir 2010 itu masih menggelayuti Busway Transjakarta hingga memasuki 2011 sehingga perlu penanganan yang lebih serius lagi agar masalahnya dapat terpecahkan.

1. Subsidi busway yang tidak terjamin keberlangsungannya akibat ketidaksamaan visi pengaturan mobilitas warga kota Jakarta yang berbasis angkutan massal cepat.

2. Tidak transparannya ticketing system-nya yang masih dilakukan secara manual. Proses verifikasi tiket yang masih mengandalkan tenaga kerja dengan sistem outsourcing sangat rentan terhadap kebocoran. Pemasangan kamera (CCTV) di halte hanya bisa ditoleransi dalam tempo sementara karena masyarakat juga tidak mempunyai akses yang baik terhadap kontrol operasional kamera tersebut.

 

Menjadi Lebih Baik

 

Peningkatan pelayanan Transjakarta Busway dapat dilihat dari tiga hal, yaitu headway (kedatangan bus satu dan berikutnya), masa tunggu penumpang, serta waktu tempuh (travel time) yang makin pendek. Semakin lama headway, masa tunggu penumpang di halte, serta makin lama waktu tempuh ke suatu tujuan, maka itu menunjukkan pelayanan yang buruk. Tapi makin pendek headway, masa tunggu penumpang, dan waktu tempuh; maka itu menunjukkan pelayanan yang baik.

 

Berdasarkan hasil observasi INSTRAN selama satu minggu terakhir (tanggal 10-14 Januari), sejumlah koridor yang dulu dikenal tidak steril, seperti Koridor V dan VI, sekarang telah lebih steril. Meskipun demikian, pada kasus tertentu terjadi ketidak-sterilan sehingga mengganggu perjalanan busway yang kemudian konsekuensinya adalah headway yang begitu lama. Tapi headway yang lama ini sekarang sifatnya kasusistik, bukan terjadi secara umum. Secara rerata, headway busway mengalami perbaikan dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Penumpang mulai merasakan jarak kedatangan bus yang makin pendek.

 

Meskipun pada kasus tertentu, headway yang pendek itu tidak secara otomatis menciptakan kondisi waktu tunggu yang pendek pula. Hal itu dapat terjadi pada Koridor 6 pada pagi hari kea rah Dukuh Atas. Kalau misalnya kita menunggu busway di halte Warungjati ke utara hingga Kuningan Timur, mungkin kita akan mengalami masa tunggu yang cukup lama untuk dapat terangkut oleh busway meskipun headway busway amat pendek. Mengapa? Karena bus dari arah Ragunan sudah full sejak di Halte Departemen Pertanian hingga Jati Padang. Kasus yang kami alami sendiri pada tanggal 12 Januari 2011 jam 08.57, sampai 30 menit belum mendapatkan bus karena penuh terus sehingga kami atasi dengan cara ikut bus yang ke arah Departemen Pertanian, dan kemudian baru naik dari Halte Departemen Pertanian.

 

Yang menjadi problem di Koridor VI sekarang ini bukan lagi jalurnya yang tidak steril, tapi jumlah armadanya tidak cukup, belum mampu mengimbangi percepatan pertumbuhan jumlah penumpang. Tampaknya, karena jalurnya sudah steril itulah yang membuat banyak pemilik kendaraan pribadi pribadi memilih parker kendaraannya di Ragunan dan kemudian melanjutkan perjalannya dengan menggunakan busway, sehingga jumlah penumpang busway di Koridor VI meningkat pesat.

 

Tabel 1 di bawah ini adalah perbandingan hasil survey INSTRAN sejak 2008 mengenai headway di beberapa koridor yang kami ambil secara random. Hasil survey tersebut merekam headway terlama maupun headway rata-rata. Untuk Koridor IX dan X hingga saat ini, kami masih dalam tahap pengumpulan dan pengolahan data.

 

Tabel 1

Headway Rata-Rata 2007-2011 (menit:detik)

KORIDOR

TAHUN

2008

2009

2010

2011

1

2:29

2:31

1:56

1:34

2

5:31

3:05

2:05

1:57

3

7:15

9:12

7:32

6:32

4

7:09

9:34

9:24

7:50

5

8:01

7:32

8:0

5:32

6

7:49

6:23

5:42

5:01

7

11:55

9:17

8:47

6:23

8

-

13:29

12:24

11:12

 

Sumber: INSTRAN, data diolah

 

Tabel 2

Headway Terlama 2007-2011 (menit)

KORIDOR

TAHUN

2008

2009

2010

2011

1

8

8

7

14

2

9

10

12

25

3

13

13

15

13

4

27

13

12

14

5

23

24

27

12

6

27

23

24

15

7

40

20

18

20

8

-

42

38

20

 

Sumber: INSTRAN, data diolah

 

 

Hasil survey ini menunjukkan kondisi yang lebih baik saat memasuki tahun 2011 karena ternyata headway rata-ratanya semakin pendek, yang berarti pula menunjukkan bahwa perjalanan bus semakin lancar.

 

Peningkatan Penggunaan Fasilitas Park and Ride

 

Jalur busway Transjakarta yang makin steril juga dapat meningkatkan jumlah animo masyarakat yang menggunakan Busway Transjakarta. Hal itu terlihat sangat mencolok di Koridor VI (Ragunan – Dukuh Atas) yang mempunyai fasilitas park and ride cukup bagus di area Kebun Binatang Ragunan. Berdasarkan hasil survey INSTRAN, terjadi peningkatan jumlah orang yang menggunakan fasilitas park and ride serta calon penumpang yang diantar kerabatnya (atau dikenal dengan sebutan sistem Kiss and Ride), seperti yang terlihat dalam grafik 1 di bawah ini.

 

 

 

Grafik 1. Tren Pertumbuhan Penumpang Busway yang Memakai Fasilitas Parkir (Park and Ride) di Ragunan

 

Keterangan:

1. 2 August 2010: sebelum sterilisasi dilaksanakan secara efektif.

2. 6 August 2010: setelah program sterilisasi dilaksanakan secara efektif.

3. 3 September 2010: program sterilisasi telah dilaksanakan + 1 bulan

4. 10 Januari 2011: setelah dibentuk Satgas Sterilisasi dan Busway Koridor IX dan X dioperasikan.

 

Berdasarkan fakta di lapangan tersebut, maka sterilisasi jalur busway mutlak harus mencakup ke seluruh koridor busway, bukan hanya pada koridor tertentu saja. Pada titik-titik tertentu yang masih terlihat tidak steril perlu mendapat perhatian khusus dari Satgas anti kemacetan. Bila sterilisasi di semua jalur itu akan berdampak pada timbulnya kemacetan di jalan-jalan non busway, itu merupakan konsekuensi logis dari pilihan untuk mendorong pengutamaan angkutan umum. Yang harus dilakukan kemudian adalah segera melakukan pendidikan publik agar masyarakat menggunakan angkutan umum, dalam hal ini busway serta segera menambah armada untuk setiap koridor sehingga mampu menampung pengalihan penumpang dari kendaraan pribadi ke Busway Transjakarta.

 

Pendidikan publik merupakan salah satu kegiatan yang selama ini terabaikan dan diharapkan di masa depan perlu memperoleh perhatian khusus disertai dengan alokasi anggaran yang khusus pula.

 

Kerusakan Jalan

Sayang usaha perbaikan pelayanan busway Transjakarta itu belum komprehensif karena di satu sisi Dishub DKI Jakarta dan Kepolisian ceq Dirlantas Polda Metro Jaya sudah berusaha untuk mensterilkan jalurnya, tapi perjalanan busway tetap saja terhambat oleh kerusakan jalan yang ada di beberapa bagian jalan, termasuk di sekitar halte busway itu sendiri sehingga selain busway harus berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan, juga perjalanannya secara otomatis terganggu, karena sopir busway mau tidak mau harus berjalan melambat dan siksak pada saat akan melewati jalan-jalan yang rusak. Di sisi lain, perbaikan jalan khusus jalur busway yang dilakukan secara serentak, seperti terjadi pada Koridor 1 dari arah Karet sampai Sarinah, juga menghambat perjalanan Busway Transjakarta dan secara otomatis mempengaruhi headway menjadi lebih lama. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang dari Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta agar perbaikan jalur busway berikutnya tidak dilakukan secara serentak, tapi per penggal sehingga tidak sangat mengganggu kelancaran busway. Persoalan administratif yang berkaitan dengan tender proyek perlu dipecahkan dengan melibatkan BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan), sehingga tidak menimbulkan persoalan baru bagi Dinas Pekerjaan Umum.

 

Perbaikan layanan Busway Transjakarta juga tidak disertai dengan perbaikan fasilitas pendukung, seperti misalnya fasilitas pedestrian di sepanjang koridor busway yang tidak segera diperbaiki. Boleh dikatakan bahwa selama tiga tahun terakhir masa kepemimpinan Fauzi Bowo tidak ada perbaikan fasilitas pedestrian yang cukup signifikan dan dapat menunjang perjalanan pengguna busway, seperti yang terjadi pada Koridor Sudirman – Thamrin. Untuk itulah kita berharap kepada Pemprov DKI Jakarta agar serius dalam mengembangkan fasilitas pedestrian sehingga semakin menarik pengguna Transjakarta.

 

Halte Kurang Memadai

 

Seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang busway serta belum menentunya headway, hal itu memunculkan persoalan pada lokasi pengantrean dalam hal ini halte yang kurang memadai lagi. Beberapa halte yang secara tidak sengaja maupun disengaja menjadi halte transfer sudah tidak memadai lagi dengan banyaknya jumlah penumpang yang antre. Halte yang kurang memadai itu berakibat kurang nyamannya bagi penumpang. Beberapa hal yang sudah tidak sesuai dengan jumlah penumpang itu misalnya halte Dukuh Atas 2, Harmoni, Juanda, Senen, Matraman dari arah Koridor 5, dan Grogol. Halte-halte tersebut saatnya untuk diperbesar agar dapat menambah kenyamanan bagi penumpang saat antre maupun berpapasan dengan penumpang lain. Halte Senen yang menghubungkan Koridor 5 perlu pembenahan bukan hanya soal kapasitasnya saja, tapi untuk perbaikan traffic. Kondisi halte sekarang yang pendek, hanya cukup untuk menurunkan penumpang satu bus saja. Bila ada dua bus dari arah Ancol, maka pada saat traffic light menyala merah, hanya satu bus saja yang dapat menurunkan penumpang. Akibat, ketika traffic light menyala hijau, hanya satu bus pula yang bisa berjalan, sedangkan bus nomer dua baru menurunkan penumpang. Konsekuensi logisnya adalah, saat bus kedua ini selesai menaikkan penumpang, traffic light sudah menyala merah lagi sehingga bus kedua tertahan selama enam menit di traffic light. Ini te ntu saja mempengaruhi headway yang semakin panjang. Untuk itu keberadaan halte Senen yang melayani Koridor 5 ini perlu segera diperpanjang agar dapat menurunkan penumpang bus gandeng dua sekaligus.

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

 

A. Kesimpulan

 

Memperhatikan hasil monitoring di lapangan selama dua minggu awal tahun 2011 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Busway Transjakarta dalam memasuki usianya yang ketujuh ini sudah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi di tahun 2010 yang kami katakan saat itu berjalan mundur. Sekarang Busway Transjakarta sudah berjalan maju. Boleh jadi majunya ini karena tekanan berbagai pihak, termasuk intervensi kantor Wakil Presiden melalui UKP4 yang menyusun ke-17 langkah (sekarang dikembangkan menjadi 24 langkah) untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Campur tangan Kantor Wakil Presiden inilah yang memungkinkan terjadinya percepatan penyelesaian mengenai BBG dan sekaligus mendorong pihak Kepolisian dan Dinas Perhubungan untuk serius menciptakan sterilisasi jalur busway.

 

Terlepas dari adanya campur tangan Pemerintah Pusat, yang pasti perbaikan pelayanan Busway Transjakarta telah mendorong terjadinya peningkatan pengguna Busway Transjakarta. Pengoperasian Koridor IX dan X juga dapat meningkatkan pelayanan pengguna angkutan umum di koridor tersebut. Terbukti, jumlah penumpang di dua koridor tersebut makin hari makin meningkat. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi petugas agar jalur busway tetap steril. Bila sudah steril, maka Pemprov DKI Jakarta pun diharapkan dapat segera menambah busnya. Dalam usaha menambah bus itu, tidak ada salahnya Pemerintah Pusat dapat membantunya.

 

 

B. Rekomendasi :

 

Berdasarkan kondisi lapangan yang ada, maka berikut disampaikan beberapa rekomendasi yang perlu ditindak-lanjuti oleh pihak-pihak terkait (Pemprov DKI Jakarta dengan dinas-dinasnya, BLU Transjakarta, Dirlantas Polda Metro Jaya, dan Pemerintah Pusat) dalam rangka menciptakan pelayanan Busway Transjakarta yang lebih baik. Rekomendasi ini tidak didasarkan pada kajian akademik, tapi didasarkan pada pengamatan dan pengalaman di lapangan sebagai pengguna Busway Transjakarta dan sekaligus pengamat.

 

1. Rekomendasi untuk pempov DKI Jakarta cq. Dinas Perhubungan, Dinas PU, Pertamanan, Kebersihan, Satpol PP, dan Biro Perekonomian:

 

1. Penambahan Armada. Penambahan armada baru untuk masing-masing koridor ini dirasakan amat mendesak terkait dengan adanya sterilisasi jalur busway dan telah ditetapkannya harga tunggal Bahan Bakar Gas (BBG) untuk sektor transportasi yang selama ini menjadi hambatan operasional busway. Dengan jalur yang steril, maka agar tidak menimbulkan kemarahan kepada pengguna jalan non busway, dan demi menjaga integritas petugas di lapangan, jalur yang steril itu jangan dibiarkan terlalu lama kosong. Bila kosong lima menit saja, maka dapat menimbulkan umpatan pada pengguna jalan non busway. Agar headway lima menit itu dapat tercapai, maka jumlah bus harus cukup. Agar keberadaan bus yang cukup itu tidak menimbulkan inefisiensi, maka penambahan armada perlu disertai dengan kampanye menggunakan angkutan umum yang mampu memaksa pengguna kendaraan pribadi pindah ke busway. Tidak ada alasan lagi bagi pengguna kendaraan pribadi untuk pindah ke busway bila buswaynya ternyata aman, nyaman, dan lancar. Selama ini mereka enggan pindah ke busway dengan alasan busnya terbatas, terlalu lama jarak kedatangannya, dan jalurnya tidak steril sehingga tidak nyaman dan tidak tepat waktu. Dengan menjamin bahwa busway bisa aman, nyaman, dan tepat waktu maka secara otomatis orang akan melakukan perpindahan sendiri. Pola pikirnya jangan dibalik, bahwa bus yang ada sekarang saja di luar jam sibuk belum efisien. Semua tahu, bahwa dalam pelayanan publik, termasuk transportasi, mutu pelayanan yang diberikan itulah yang akan dapat meningkatkan demand, bukan sebaliknya bahwa mutu pelayanan akan mengikuti demand. Tidak ada ceritanya dengan tesis yang terakhir ini.

 

2. Elektronisasi Tiket.
Seperti dikeluhkan sejak lama, persoalan ticketing menjadi penting karena tiket manual pastinya menimbulkan kecurigaan kebocoran karena lemahnya proses pengawasan dan verifikasi. Oleh sebab itu penerapan e-ticketing untuk semua koridor sudah menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi, mengingat teknologi ini sudah sangat populer dan diterapkan di banyak tempat, bukan hanya sektor transportasi saja.

Proses penerapan e-ticketing ini sebenarnya mudah dan murah. Kuncinya terletak pada kemauan politik dari Pemprov DKI Jakarta serta mengabaikan segala kepentingan individu dan institusi. Kalau memang Bank DKI Jakarta tidak mampu memecahkan persoalan ini, Pemprov DKI Jakarta dapat menggandeng kerjasama dengan institusi lain. Bisa saja dalam kerjasama tersebut Bank DKI Jakarta dilibatkan sebagai share holder, tapi bukan sebagai pemain tunggal. Membiarkan kondisi ini terus menerus menggantung sesungguhnya menggerogoti kewibawaan Pemprov DKI Jakarta sendiri, mengingat kota yang lebih kecil dan miskin, seperti TransJogja sejak awal sudah mengetrapkan e-ticketing, masak Jakarta yang lebih kaya dan banyak tenaga ahli justru masih menggunakan tiket manual. Tentu ini merupakan hal yang memalukan.

3. Menertibkan Halte dari PKL dan Pengemis. Pada saat ini banyak jembatan penyeberangan orang (JPO) yang telah dipenuhi dengan PKL dan pengemis yang amat mengganggu kelancaran arus penumpang di sekitar halte. Pada jam-jam sibuk keberadaan PKL itu amat mengganggu calon penumpang. Sedangkan keberadaan pengemis, termasuk penderita sakit kusta, anak-anak dengan ibunya yang memelas telah menimbulkan pemandangan tidak sedap. Amat disayangkan bahwa pengemis dan PKL itu sering sampai di jembatan yang menuju ruang tiket, bukan hanya jembatan penghubung saja. Hal ini menunjukkan lemahnya pengawasan dari Satpol PP. Untuk itu diharapkan agar pihak Satpol PP turut aktif menertibkan kawasan di sekitar halte busway tersebut agar menjadi kawasan yang lapang untuk pergerakan orang yang akan naik turun busway transjakarta.

 

4. Merawat Kebersihan Halte dan JPO demi Kenyamanan para Calon Penumpang.

 

Banyak halte yang saat ini kurang terawat: cat sudah lusuh dan banyak yang mengelupas, kanopi lepas, skrup banyak yang lepas, lantai JPO sudah tidak merata dan sejenisnya yang perlu mendapat perhatian serius untuk segera dilakukan perawatan agar memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi calon pengguna Busway Transjakarta. Kenyamanan dan keselamatan calon penumpang pada saat di halte dan JPO perlu dijamin agar mereka merasa betah menggunakan busway.

 

5. Benahi Halte-Halte Krusial. Halte-halte krusial seperti Halte Dukuh Atas 2, dan Halte Senen (Koridor II dan V) perlu disempurnakan konstruksi fisik dan dimensinya sehingga bisa mengoptimalkan operasional Transjakarta (menghindari bus bunching dan mempercepat headway) maupun memberikan kenyamanan kepada para calon penumpang yang sedang mengantri.

 

6. Segera Bentuk BUMD Transjakarta Busway. Dorongan untuk membentuk pada khusus yang lebih otonom untuk mengelola Transjakarta itu sudah muncul sejak awal. Bahkan sejak ide busway digagas, ITDP sudah memberikan rekomendasi mengenai hal tersebut. Tapi faktanya sampai sekarang badan tersebut belum terbentuk. Janji akan terbentuk April 2010, ternyata sampai awal 2011 belum terbentuk juga. Semoga dengan bertambahnya jumlah koridor dan armada saat ini dapat mendorong percepatan pembentukan badan baru yang lebih otonom untuk pengelolaan Busway Transjakarta, seperti misalnya BUMD. Pilihan pada BUMD dirasakan lebih tepat karena BUMD dapat menerima subsidi PSO (Public Service Obligation) dari Pemerintah, sehingga pemberian subsidi untuk penumpang busway bukan suatu hal yang salah.

 

7. Mengganti Bus Koridor I dan VI dengan Bus Gandeng untuk Mengoptimalkan Kapasitas.
Melihat demand Koridor I dan VI yang begitu besar dan mayoritas dari kelas menengah ke atas, yang berarti merupakan media kampanye angkutan umum yang efektif, maka perlu memperoloeh pelayanan yang memadai sehingga mereka tetap bertahan menggunakan Busway Transjakarta. Pada jam-jam sibuk, keberadaan bus tunggal dengan headway yang belum pasti, tidak mampu lagi menampung jumlah calon penumpang. Untuk itu saatnya bus Koridor 1 dan VI diganti dengan bus gandeng. Pergantian untuk Koridor 1 itu mestinya sudah harus dilakukan pada tahun 2011 ini bersamaan dengan habisnya masa kontrak dengan operator Koridor 1 setelah tujuh tahun beroparasi. Bila pada tahun 2011 pergantian tersebut belum dijalankan, maka diharapkan selambat-lambatnya pertengahan 2012 sudah diganti. Konsekuensinya, proses penggantian bus tersebut sudah harus dijalankan mulai tahun 2011 ini.

Untuk Koridor VI, jika penggunaan bus gandeng terkendala rute yang ada saat ini, maka rute bus gandeng Koridor VI bisa dialihkan, yaitu dari Ragunan hingga ke Kota (melalui Jl. Imam Bonjol dan Bundaran HI, serta tanpa harus singgah di Halte Dukuh Atas2). Berdasarkan quick accessment yang dilakukan INSTRAN, peminat rute terusan (direct service) ini cukup besar, terlebih jika tersedia bus gandeng yang melayani rute ini.

 

 

8. Memperbanyak Fasilitas Park and Ride dan Kantong-kantong Parkir. Keberadaan fasilitas park and ride seperti yang ada di Ragunan ternyata mampu menjadi daya tarik bagi para pengendara pribadi untuk memarkir kendaraan mereka mereka di sana dan kemudian mereka melakukan perjalanan ke pusat kota dengan menggunakan busway. Pola ini di satu sisi telah mengurangi jumlah kendaraan bermotor pribadi di Koridor VI, di sisi lain dapat meningkatkan jumlah penumpang di Koridor VI. Bila fasilitas sejenis dikembangkan di banyak lokasi strategis, maka hal itu akan dapat meningkatkan jumlah pengguna busway di satu sisi dan mengurangi kemacetan di sisi lain.

 

9. Bangun Koneksitas Pejalan Kaki yang baik antara halte busway dengan stasiun KRL. Usaha lain untuk mendorong peningkatan jumlah pengguna busway adalah dengan membangun koneksitas pejalan kaki yang baik di lokasi-lokasi yang terintegrasi dengan moda transportasi lain, khusus KRL Jabodetabek, seperti misalnya yang terjadi di Cawang, Manggarai, Juanda, dan Kebayoran Lama. Bila koneksitas tersebut dibangun, maka selain akan memudahkan transfer antar moda, juga akan meningkatkan jumlah pengguna busway dari para pengguna KRL.

 

10. Mendorong para Swasta untuk Membangun Direct Access antara Bangunan Gedung Usaha dengan Halte Busway untuk meningkatkan accessibility. Pusat perbelanjaan PGC (
Pusat Grosir Cililitan) merupakan contoh baik mengenai keterlibatan swasta dalam meningkatkan aksesibilitas pengguna busway dengan cara membangun koneksitas langsung dari halte ke gedung usaha maupun menyediakan tempat untuk halte tujuan akhir Koridor X. Keterlibatan mereka itu telah menjadi bentuk kerjasama yang saling menguntungkan. Di satu sisi busway dapat memperoleh pasokan penumpang dari para pengunjung mall, di sisi lain PGC juga dapat menarik pengunjung dari para penumpang busway.

Tren semacam ini sudah ditiru oleh beberapa pusat belanja yang lain seperti Pondok Indah Mall (PIM) dan sebuah mall di kawasan Cempaka Putih.

Bila Pemprov DKI Jakarta dapat mendorong keterlibatan swasta yang lebih banyak, maka itu merupakan hal yang positif bagi banyak pihak. Konsep ini merupakan bentuk implementasi dari teori Transit Oriented Development (TOD).

 

11. Bangun Fasilitas yang Nyaman dan Teduh di Sepanjang Koridor Busway.
Pembangunan fasilitas pedestrian yang aman dan nyaman sebetulnya sudah dimulai sejak pembangunan Busway Koridor 1 terutama di kawasan Sudirman-Thamrin. Pembangunan fasilitas pedestrian yang nyaman dan teduh tersebut telah menginspirasi kota-kota lain untuk melakukan hal yang sama. Sayang pembangunan fasilitas pedestrian tersebut hanya berhenti di sepanjang Sudirman-Thamrin saja. Kondisi trotoar lain di sepanjang koridor busway tetap jelek. Untuk itu, diharapkan mulai tahun 2011 ini ada perbaikan dan pembangunan fasilitas pedestrian di seluruh koridor busway secara signifikan. Dinas Pertamanan bisa lebih produktif lagi di dalam membangun trotoar seperti periode sebelumnya.

2. Rekomendasi untuk BLU Transjakarta

 

1. Optimalisasi Armada. Ketika jalur busway sudah mulai steril, ekspektasi masyarakat bahwa Transjakarta bisa diandalkan dalam menjawab kebutuhan perjalanan warga Kota Jakarta harus bisa dibuktikan. Oleh sebab itu, kebijakan efisiensi BLU Transjakarta dalam bentuk split armada pada jam-jam tertentu, perlu dipertimbangkan lagi, jangan sampai membuat jalur yang sudah steril kosong terlalu lama. Banyak kerugian yang dialami jika kebijakan efisiensi dilaksanakan secara kaku dan terlalu ketat, antara lain penumpang menunggu terlalu lama di dalam halte sehingga menimbulkan image layanan yang tidak baik, masyarakat pengguna jalan reguler pun kesal karena telah ‘berkorban’, serta petugas lapangan yang menjaga jalur pun jenuh karena bus yang diamankan jalurnya ternyata tak kunjung datang. Jadi, jalur yang sudah steril harus dijawab dengan optimalisasi penggunaan armada. Jumlah armada bus yang cukup yang dikurangi operasionalnya dengan alasan efisiensi.

 

2. Menjaga ketepatan dan keteraturan headway. Headway merupakan pedoman bagi penumpang untuk menunggu busway transjakarta. Dirinya akan terangkut atau tidak sangat ditentukan oleh ketepatan dan keteraturan headway tersebut. Oleh karena itu, direkomendasikan agar BLU Transjakarta menjaga ketepatan dan keteraturan headway. Mengingat bahwa headway sangat dipengaruhi kondisi trafik, maka yang bisa dikontrol oleh BLU adalah menjaga ketepatan dan keteraturan pemberangkatan di halte ujung. Bila ketepatan tersebut sudah dilakukan tapi headway yang dipengaruhi trafik tidak tepat waktu, maka itu bukan kesalahan BLU Transjakarta.

 

3. Meningkatkan peran satgas untuk optimalisasi kapasitas bus. Hampir setiap hari terjadi pada saat penumpang berjubel di busway mereka kecewa karena tidak bisa masuk ke dalam bus yang datang karena penumpang di depan pintu berjubel sehingga mengesankan bus amat penuh padahal yang terjadi di dalamnya bus di bagian depan dan belakang agak longgar. Hal itu terjadi karena satgas kurang tegas di dalam mengatur jumlah penumpang. Penumpang cenderung berjubel di depan pintu dengan alasan memudahkan keluar dari bus. Kekurangtegasan satgas semacam ini merugikan penumpang maupun transjakarta itu sendiri, karena disatu sisi kapasitas bus tidak dapat dioptimalkan, di sisi lain penumpang yang sudah antri lama kecewa karena tidak terangkut. Untuk itu BLU Transjakarta diharapkan dapat mendorong para Satgas untuk bertindak tegas (tidak berarti kasar) dalam mengatur penumpangnya.
Kami pun pernah terkesan seorang Satgas putri (kalau tidak salah Helen Kartika)

 

4. Memastikan bus dalam kondisi prima. Beberapa kali menggunakan bus transjakarta menemukan bus tidak dalam kondisi prima, misalnya pada saat hujan air ada yang masuk atau suara pintu yang jeglok-jeglok, suara pintu yang jeglek-jeglek atau juga voice destination yang tidak berfungsi. Hal-hal semacam ini sebaiknya dipastikan oleh BLU Transjakarta sebelum busway beroperasi setiap harinya demi memberikan kenyamanan, keamanan, serta kemudahan kepada penumpang. Kondisi bus yang tidak prima tersebut bila
kami jumpai langsung kami laporkan kepada kepala BLU Transjakarta melalui pesan singkat SMS dan selalu memperoleh respon langsung. Tetapi ini kan kasuistik pada yang kami alami bila hal tersebut dialami oleh penumpang lain yang tidak peduli dan tidak punya akses terhadap BLU Transjakarta maka akan mengganggu kenyamanan dan kemudahan mereka bertransportasi dengan menggunakan busway.

Rekomendasi untuk Kepolisian

Mencermati perkembangan busway 2011 yang cukup menggembirakan ini, yaitu jalurnya makin steril, maka diharapkan pihak kepolisian dalam hal ini Dirlantas Polda Metro Jaya dan segenap jajarannya untuk menjaga konsistensi mereka dalam mewujudkan sterilisasi jalur busway. Bila buswaynya lancar dan makin pengendara pribadi yang pindah ke busway hal itu juga akan memperingan tugas polisi dalam mengatur dan menertibkan lalu lintas. Jadi sterilisasi jalur busway tidak akan merepotkan polisi sebalikanya justru akan memperingan kerja polisi. Konsistensi yang dimaksud disini adalah melakukan penindakan secara terus menerus kepada setiap pelanggar jalur busway baik motor, mobil pribadi, maupun angkutan umum non busway.

 

 

 

Jakarta, 15 January 2011

 

 

Darmaningtyas

Direktur Eksekutif INSTRAN

081511633732

0818463020

Email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

 

 

A. Izzul Waro

Program Officer INSTRAN

081384499408

081808371618

Email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Sudah beredar

Baner
Penulis : Darmaningtyas Tebal buku : xxi+344 hal Penerbit : INSTRAN-Pustaka Yashiba Harga : Rp.50.000; Pemesanan via pos ditambah ongkos kirim sesuai ketentuan tarif. Hub: Ratim/Nova, 021-79197057

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini686
mod_vvisit_counterKemarin1506
mod_vvisit_counterMinggu ini5459
mod_vvisit_counterBulan ini31242
mod_vvisit_counterSemua804159
Terima kasih atas kunjungannya

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.