Desain Dasar MRT Dikoreksi Cetak
JAKARTA(SINDO) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengoreksi Basic Engineering Design (BED) atau desain dasar konstruksi Mass Rapid Transit (MRT) Tahap I (Lebak Bulus–Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang telah rampung dibuat PT Nippon Koei.

Koreksi itu untuk menjamin pelayanan optimal MRT kepada warga Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, pengoreksian BED MRT telah rampung dan diserahkan kembali kepada PT Nippon Koei untuk penyempurnaan. Dia berharap penyempurnaan BED dapat rampung pada akhir bulan ini.Dengan demikian,bulan depan bisa dilaksanakan pembuatan tender dokumen dan pelaksanaan prakualifikasi tender konstruksi fisik. Fauzi optimistis penyempurnaan BED MRT berdasarkan hasil koreksian dapat rampung sesuai target.“Targetnya BED harus final pada akhir Januari ini. Saya sudah sampaikan opini terhadap BED MRT dan hal yang harus disempurnakan,” tutur Fauzi Bowo di Balai Kota kemarin.

Beberapa hal yang menjadi catatan koreksian terhadap BED tersebut,yakni rangkaian gerbong kereta yang digunakan berjumlah enam atau delapan gerbong. Dia juga menjelaskan kerugian dan keuntungan menggunakan rangkaian enam gerbong atau delapan gerbong tersebut.Selain itu,dalam BED MRT, Pemprov menanyakan panjang stasiun MRT dari awal pembangunan fisiknya disesuaikan untuk enam gerbong atau delapan gerbong kereta. Gubernur menegaskan, proses persiapan administrasi pembangunan MRT telah mendekati proses akhir.Setelah BED rampung disempurnakan, maka langsung dibuat tender dokumen, yaitu akan membagi pengerjaan pembangunan fisik MRT dalam beberapa paket tender dokumen.

“Februari, kami akan buatkan tender dokumen untuk pengerjaan fisik MRT Tahap I,termasuk pelaksanaan prakualifikasi tender. Saya tegaskan semua masih dalam jadwal yang telah ditetapkan,” tuturnya. Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo menambahkan, draf final report BED koridor Selatan–Utara tahap I (Lebak Bulus–Bundaran HI ) telah selesai. Laporan akhir desain dasar ini sedang dalam proses review dan finalisasi untuk kemudian direvisi dan mendapat persetujuan Kementerian Perhubungan dan Pemprov DKI Jakarta.“Laporan akhir desain dasar ini kemudian akan ditindaklanjuti dengan proses lelang konstruksi yang diawali proses prakualifikasi,” paparTribudi. Prakualifikasi lelang dilakukan untuk menyaring perusahaanperusahaan, baik domestik dan mancanegara, yang berminat melakukan pengerjaan fisik MRT koridor tersebut.

Diperkirakan prakualifikasi lelang akan membutuhkan waktu dua–tiga bulan, kemudian akan dilanjutkan dengan pelaksanaan lelang konstruksi.“Proses prakualifikasi ini diharapkan dapat dilaksanakan secepatnya sehingga lelang konstruksi dapat dilaksanakan pada pertengahan 2011,”tuturnya. Sementara pembangunan fisik MRT Jakarta tahap I ditargetkan dapat terlaksana pada 2012. Dengan demikian, target MRT beroperasi pada akhir 2016 bisa terealisasi. Saat ini,Pemprov DKI Jakarta terus melakukan proses pembebasan lahan. Pembebasan lahan ini dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta. Dishub melakukan pembebasan lahan untuk kebutuhan depo. Sementara Dinas PU melakukan pembebasan lahan di sepanjang koridor MRT. Pembebasan tanah dilakukan di wilayah Jakarta Selatan. Saat ini,total tanah yang sudah dibebaskan sebanyak 30 bidang.Masih ada 252 bidang yang belum dicapai kesepakatan harga.

Meski demikian, pembebasan lahan ditargetkan akan rampung pada akhir 2011. Nilai proyek MRT tahap I Lebak Bulus–Dukuh Atas sebesar 144 miliar yen. Sekitar 120 miliar yen diperoleh dari pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Jika ada kekurangan, untuk penambahan biaya, bisa ditutupi dengan anggaran MRT Tahap II. (helmi syarif)
 
Sumber berita: Seputar Indonesia, 26 Januari 2011
Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/378177/

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine