Waktu Tempuh Perjalanan Molor Hingga 100 Persen Cetak
Kecepatan rata-rata kendaraan hanya 13 kilometer per jam

Kemacetan di Jakarta tampaknya memang semakin parah. Dalam waktu lima tahun, waktu tempuh yang diperlukan seseorang untuk bepergian di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi molor hingga 100 persen."Lima tahun lalu, dari Bogor ke Jakarta dengan mobil masih bisa ditempuh 1 jam,"kata Agus, 40 tahun, pegawai Direktorat Jenderal Pajak, yang ditemui di Stasiun Gambir kemarin.

Saat ini,kata Agus,waktu tempuh dari rumahnya, di Cibinong, Bogor, ke kantornya di daerah Gambir, Jakarta Pusat, tak pernah kurang dari 1,5 jam. Waktu tempuh akan lebih lama jika ia naik mobil: rata-rata 2 jam. Karena itu, Agus memilih menggunakan kereta listrik.

Sudah beberapa tahun ini setiap hari Agus naik kereta api pukul 06.00. Ia sampai di Stasiun Gambir pukul 07.00, sehingga tidak pernah terlambat masuk kantor, yakni pukul 07.30. Kalaupun jadwal perjalanan kereta kadang tertunda, ia tak terlalu mempermasalahkannya. "Jarang terlambat, kok. Jauh lebih nyaman dibanding nyupir sendiri," ujarnya tertawa.

Molornya waktu tempuh perjalanan juga dirasakan Niki, kon sultan mineral dan batu bara yang berkantor di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Perjalanan dari rumahnya, di Bekasi Barat, ke Jakarta kini bertambah berkali lipat. Lima tahun lalu, perjalanan dengan mobil ke Jakarta tidak sampai 1 jam, sekitar 40 menit.

Tapi sekarang Niki butuh waktu sekitar 1,5-2 jam. Apalagi waktu sore, ketika semua ingin pulang lebih cepat. Untuk menghindari macet, "Lebih baik makan dulu daripada capek di jalan."

Hal serupa dialami Yeni, 30 tahun, karyawati perusahaan swasta. Setiap hari Yeni harus pergipulang dari rumahnya, di Bintaro, Tangerang, ke kantornya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Ia biasa naik Metromini dari Kodam Bintaro sampai Blok M. Waktu tempuh perjalanan dengan Metromini sulit diprediksi. Untuk berjaga-jaga agar tak telat tiba di kantornya,Yeni menyiapkan waktu 1,5 jam untuk perjalanannya.
Ia berangkat pukul 07.30, sehingga tidak terlambat masuk kantor, yakni pukul 09.00 .Waktu yang dihabiskannya di perjalanan diakuinya makin bertambah dari waktu ke waktu."Tiga tahun lalu, saat baru mulai kerja, saya naik bus tidak sampai 1 jam sudah sampai. Sekarang, tak pernah kurang dari itu,"ujarnya.

Apa yang dilakukan untuk mengakali waktu tempuh yang panjang itu? Agus mengatakan, lima tahun lalu, kemacetan Jakarta masih bisa diakali dengan berangkat lebih pagi. Tapi, "Sekarang macetnya sepanjang waktu," kata Agus putus asa.

Keluhan masyarakat itu sesuai dengan catatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). MTI mencatat kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta hanya 13 kilometer per jam. Ketua Umum MTI Danang Parikesit mengatakan lima tahun lalu kecepatan kendaraan di Jakarta sekitar 18 kilometer per jam. Kecepatan kendaraan standar di perkotaan sekitar 18-25 kilometer per jam. Artinya, kecepatan rata-rata kendaraan turun 5 kilometer atau 27 persen di bawah standar minimal. "Kecepatan rata-rata di Tokyo mencapai 22-25 kilometer per jam, Jakarta masih jauh di bawahnya,"kata Danang kemarin.

Rendahnya kecepatan kendaraan di Jakarta ini, kata Danang, akibat jumlah pengguna kendaraan umum yang terus menurun dari tahun ke tahun. "Pengguna angkutan umum menurun 1 persen per tahun."Pada 2002, jumlah pengguna kendaraan umum di Jakarta mencapai 55 persen dari seluruh pengguna jalan. Namun saat ini merosot menjadi tinggal sekitar 47 persen.

Delapan persen pengguna kendaraan umum itu beralih ke moda transportasi pribadi, yakni mobil dan sepeda motor, sehingga jumlah pengguna kendaraan pribadi melonjak dari 45 persen menjadi 53 persen. Di sisi lain jumlah pengguna jalan di tumbuh tak terkendali. Padahal sarana dan prasarana jalan serta angkutan umum tidak bertambah dan tertata. Akibatnya, kemacetan makin parah, kecepatan kendaraan berkurang 1 kilometer per jam setiap tahun. AGUNG SEDAYU | PINGIT ARIA | ENDRI K
 
Sumber berita: Koran Tempo, 26 Januari 2011
Link: http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2011/01/26/index.shtml

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine