Enggan Pilih Angkutan Umum Cetak
OLEH BUDIAWAN SIDIK ARIFIANTO DAN GIANIE

Buruknya layanan transportasi umum di Jakarta memicu warga lebih memilih sepeda motor sehingga kepemilikannya membengkak. Kondisi ini berpotensi menambah kesemrawutan lalu lintas. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, pertumbuhan sepeda motor dalam 10 tahun terakhir meningkat tiga kali lipat. Di wilayah DKI Jakarta saja, pada periode 2004-2009 rata-rata pertambahan sepeda motor sekitar 359.000 unit per tahun atau 985 unit per hari. Tahun 2010 pertumbuhan penjualan sepeda motor meningkat drastis, yakni 525.122 unit kendaraan atau setara 1.438 unit per hari.

Jika rencana pengaturan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi jadi diberlakukan April mendatang, potensi pertambahan sepeda motor akan lebih besar. Ditambah dengan kondisi ruwetnya manajemen transportasi umum, membuat pengguna sepeda motor enggan meninggalkan kendaraannya.

Keengganan beralih dari menggunakan sepeda motor ke transportasi umum ini terekam dari hasil survei yang dilakukan Kompas terhadap warga Jakarta dan sekitarnya. Sebanyak 44,3 persen responden menyatakan hal demikian. Menurut kelompok yang menolak beralih ini, selain kondisi transportasi umum yang belum baik, sepeda motor adalah moda transportasi yang lebih cepat dan efisien dalam memenuhi kebutuhan pemakainya.

Sebagian besar pengguna motor menyatakan kesediaan untuk beralih (53,9 persen) dengan satu syarat, yakni pemerintah melakukan pembenahan agar layanan transportasi umum lebih cepat, aman, nyaman, dan murah.

Saat ini dampak pertambahan sepeda motor yang pesat mulai dirasakan masyarakat ketika mereka berada di ruang publik. Mayoritas responden (90 persen) menyatakan jalan raya di Jakarta menjadi tempat yang berbahaya dengan makin banyaknya pengendara sepeda motor. Responden bertambah khawatir jika sepeda motor semakin banyak lagi.

Tidak tertib

Kekhawatiran itu didasari penilaian bahwa selama ini perilaku pengendara sepeda motor tidak tertib, sering melanggar peraturan lalu lintas, dan tidak mengutamakan cara berkendara yang aman. Sebanyak 87,2 persen dari 733 responden yang menilai perilaku pengendara motor seperti itu. Penilaian itu sama dengan perilaku sopir angkutan umum yang juga dianggap tidak tertib (88,7 persen).

Bentuk perilaku tidak tertib itu terlihat dari banyaknya pengendara motor yang menyelinap di antara celah kemacetan, melanggar rambu-rambu, melawan arus, mengebut, hingga naik ke badan trotoar. Perilaku yang sering mengganggu kenyamanan, bahkan membahayakan keselamatan pengguna jalan lain, jadi pemandangan sehari-hari di jalanan ibu kota.

Tak heran jika angka kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor terus meningkat. Kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor rata-rata per tahun mencapai 54 persen dari total seluruh kasus kecelakaan lalu lintas.

Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menunjukkan, selama periode 2006-2010 rata-rata pertambahan jumlah sepeda motor yang mengalami kecelakaan lalu lintas sekitar 25 persen, hampir 30.000 kecelakaan sepeda motor selama periode tersebut. Sebagai gambaran sederhana, dalam sehari bisa terjadi 21 kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor.

Dari 7.805 kecelakaan sepeda motor yang terjadi sepanjang 2010, sebanyak 745 orang meninggal dunia. Hingga Januari 2011, sudah terjadi 483 kecelakaan sepeda motor dan 73 di antaranya meninggal dunia.

Perilaku

Buruknya perilaku berkendara pesepeda motor menyumbang pada jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari karakter pengendara yang sembrono dan tidak disiplin hingga keterampilan berkendara yang belum memadai. Tak jarang kecelakaan tunggal pun dapat merenggut nyawa.

Selain itu, faktor eksternal, seperti kondisi infrastruktur, jalan, rambu, dan penerangan, juga bisa menyebabkan kecelakaan. Enam dari sepuluh responden menilai kondisi jalan raya di wilayah Jabodetabek masih buruk. Adapun empat dari sepuluh responden menilai penerangan jalan buruk.

Kondisi ini ironis jika dibandingkan dengan penerimaan daerah di sektor pajak kendaraan bermotor yang terus bertambah. Data dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan, dalam delapan tahun terakhir, rata-rata penerimaannya mencapai Rp 2,26 triliun. Tahun 2010 penerimaan pajak kendaraan bermotor mencapai Rp 3,1 triliun. Dengan jumlah seperti ini, alokasi untuk perbaikan infrastruktur semestinya memadai.

Kinerja polisi pun dinilai publik juga masih belum memuaskan. Sebagian besar responden (71,6 persen) menilai aparat hukum belum tegas menindak para pelanggar aturan lalu lintas. Cukup banyak responden yang mengaku menyelesaikan urusan pelanggaran dengan ”berdamai” di pinggir jalan. (LITBANG KOMPAS)
 
Sumber berita: Kompas, 14 Februari 2011
Link: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/14/04201691/enggan.pilih.angkutan.umum 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine