Motor Dominasi Kecelakaan Cetak
JAKARTA(SINDO) – Polda Metro Jaya mencatat setiap hari terjadi 2-3 kecelakaan di seluruh jalur bus Transjakarta. Kecelakaan ini masih didominasi pengendara sepeda motor. Kasubdit Gakum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Yacob DK mengatakan, kecelakaan tersebut tersebar di seluruh jalur bus Transjakarta di seluruh DKI Jakarta.” Rata setiap hari 2-3 pengendara kendaraan bermotor menjadi korban kecelakaan di jalur busway,” kata AKBP Yacob DK kemarin. Dia menyatakan, kasus kecelakaan di jalur bus Transjakarta masih didominasi kendaraan roda dua dengan jumlah yang terbilang cukup tinggi yaitu sekitar 145 insiden per tahun. 

Dari data Ditlantas Polda Metro Jaya, jumlah kecelakaan di jalur bus Transjakarta cenderung mengalami peningkatan. Tercatat,untuk 2010 jumlah kecelakaan mencapai 461 kecelakaan, sedangkan tahun sebelumnya 303 kasus.Untuk korban meninggal dunia sepanjang 2010 berjumlah 14 orang,luka berat 22 orang,dan luka ringan 104 orang. 

Sedangkan dari delapan koridor yang beroperasi pada 2010, yang paling sering menyumbang angka kecelakaan adalah koridor III (Harmoni-Kalideres) yakni mencapai 77 kasus. Hal tersebut karena jalur tersebut banyak memiliki persimpangan.” Kami juga mencatat beberapa insiden justru dikarenakan pengendara yang tidak sabar sehingga memaksa masuk ke jalur bus Transjakarta,”ujarnya. 

Terkait kecelakaan di koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas),Yacob menegaskan, MR sopir bus yang menabrak seorang murid SD pada Rabu (9/2) lalu ternyata baru bekerja sebagai pengemudi selama satu bulan 10 hari. Dia juga baru mendapatkan SIM B1 pada 1 Februari 2011. ”Dia belum memiliki SIM B1 Umum yang merupakan syarat utama untuk mengemudikan bus Transjakarta,”tuturnya. 

Dengan begitu, Yacob sangat menyayangkan seleksi sopir yang dilakukan Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta. Sesuai ketentuan, sopir bus Transjakarta harus memiliki SIM B1 Umum. Di tempat terpisah,Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Baharudin Djafar meminta kepada BLU Transjakarta agar lebih selektif untuk memilih jurumudi sehingga dapat meminimalisasi angka kecelakaan. 

Selain itu, polisi juga diminta dilibatkan dalam melakukan seleksi jurumudi tersebut. ”Kita meminta BLU Transjakarta untuk lebih ketat menyeleksi para pengemudi.Kalau bisa melibatkan pihak kepolisian ikut serta dalam melakukan tes dalam klinik mengemudi,”katanya. Hal itu dilakukan agar dapat lebih memastikan calon pengemudi bus layak atau tidak.Menurut Baharudin Djafar,syarat mutlak yang harus dipenuhi calon pengemudi bus yakni memiliki SIM Golongan B1 Umum.

Namun, sebelum mendapatkan itu setiap orang minimal sudah satu tahun memiliki SIM Golongan A dan dua tahun memiliki SIM Golongan B1. Setelah memenuhi proses itu, baru bisa mendapatkan SIM B1 Umum. Kecelakaan terakhir di jalur bus Transjakarta terjadi pada Rabu (9/2) lalu.Saat itu sebuah bus Transjakarta menabrak seorang murid SD yang bernama M Rizki di Jalan Raya Mampang,tidakjauhdarijembatan penyeberangan orang (JPO) Mampang. 

Korban tertabrak bus ketika menyeberang saat akan mengambil sarung ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi. Kini sopir bus Transjakarta berinisial MR ditahan di Polda Metro Jaya. MR diduga melanggar Undang- Undang Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 310 ayat (3) mengenai kelalaian dalam mengemudi yang mengakibatkan korban luka.Selain itu,Pasal 310 ayat (4) terkait kelalaian dalam mengemudi yang mengakibatkan korban meninggal dunia. 

Dia terancam hukum penjara maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp12 juta. Selain menahan sopir bus, polisi juga menahan bus Transjakarta jurusan Ragunan-Dukuh Atas bernomor polisi B 7445 IX itu. Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya mengusulkan penjagaan di jalur bus Transjakarta diperketat terutama pada kawasan yang tergolong ramai.Usulan tersebut sebagai respons atas tingginya angka kecelakaan di jalur khusus tersebut. 

Pihaknya juga meminta kepada instansi terkait untuk memasang pagar pembatas agar warga tidak bisa menyeberang busway. Selain itu,Royke juga meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menambah jembatan penyeberangan orang (JPO) di beberapa lokasi yang ramai lalu lalang penyeberang. Dengan penambahan sarana tersebut, warga tak punya alasan lagi untuk menyeberang di jalur bus Transjakarta. 

Pantauan SINDO di lapangan, banyak jalur bus Transjakarta tidak dilengkapi dengan pagar pembatas sehingga memudahkan warga menyeberang jalan. Misalnya di koridor VI (Ragunan – Dukuh Atas) dan koridor X (Cililitan – Tanjung Priok) banyak lokasi yang belum dipagar. 

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) DKI Jakarta Tri Tjahjono berpendapat, angka kecelakaan di jalur bus Transjakarta bisa ditekan.Untuk jangka pendek bisa dilakukan dengan pemasangan pagar pembatas. (helmi syarif)
 
Sumber berita: Seputar Indonesia, 14 Februari 2011
Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/381684/ 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine