Angkot Jadi Omprengan Malam Cetak
Penghapusan bus kota reguler P6 (Grogol-Kampung Rambutan) dan 46 (Grogol-Cililitan) membuat warga kesulitan mendapatkan angkutan umum di malam hari di jalur itu. Utamanya selepas pukul 22.00, setelah berakhirnya jam operasional bus Transjakarta. Kini, pada malam hari hingga dini hari, jalur Grogol-UKI-Kampung Rambutan kosong dari angkutan resmi. Muncullah angkutan tidak resmi, yakni angkutan kota (angkot) dari rute lain yang menjelma menjadi "omprengan".

Dari pantauan Warta Kota, Jumat (11/2) sekitar pukul 23.30, dua buah mikrolet “ngetem” menunggu penumpang di perempatan Slipi, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (11/2). Mikrolet M-O9 rute Tanahabang-Kebayoran Lama dan D-01 rute Kebayoran Lama-Ciputat. Menurut Jemi Suganda, salah seorang calo penumpang, ongkos angkutan kota (angkot) itu bervariasi. “Tetapi minimal Rp 5.000 untuk jarak dekat,” katanya. Jemi mengaku dirinya sebelumnya bekerja sebagai sopir P6, namun setelah bus itu 'dikandangkan' alias tak beroperasi lagi, dia memilih menjadi calo penumpang saja.

Lain halnya dengan Mikrolet M-09 yang disopiri Zaenal. Dia justru memilih rute Grogol-UKI atau di Jalan S Parman-Jalan Gatot Subroto. “Ongkosnya Rp 7.000 per penumpang,” ujarnya. Warga Cidodol, Jakarta Selatan itu, tak khawatir ditangkap polantas atau petugas Dinas Perhubungan karena mencari penumpang di jalur yang bukan rutenya. Yang penting, kata Zaenal, begitu angkotnya penuh dan sudah melaju lampu di dalam angkot dimatikan dan pintu ditutup rapat. “Kebanyakan yang naik pegawai mal dan perkantoran,” tutur Zaenal seraya menambahkan, dirinya hanya narik di jalur itu sejak pukul 23.00 sampai pukul 02.30.

Beda tarif

Selain itu, di jalur Grogol-UKI-Rambutan, juga ada beberapa angkot yang menjelma menjadi "omprengan". Ada M19 yang aslinya melayani rute Cililitan- Kranji (Bekasi). Ada pula beberapa mikrolet M06 (Kampung Melayu- Gandaria), dan M09 (Tanahabang-Kebayoran Lama). Repotnya, tarif yang ditetapkan tidak ada standarnya. Pengeluaran masyarakat pun meroket. Tak tanggung-tanggung, bisa mencapai tiga kali lipat. Contohnya, Slipi-Kampung Rambutan yang biasanya hanya perlu mengeluarkan ongkos Rp 3.000 untuk naik bus Mayasari Bhakti P6 (tarif resmi Rp 2.500 per penumpang), kini melonjak menjadi Rp 7.000-Rp 10.000 untuk mikrolet.

Warta Kota yang mencoba naik mikrolet-mikrolet itu menemui tarif yang berbeda-beda. Hari pertama penghapusan bus kota reguler, Senin (7/2) malam, ketika naik mikrolet M09 dari Slipi hingga UKI ditarik ongkos Rp 5.000. Untuk mencapai Kampung Rambutan harus nyambung lagi dari UKI ke Pasar Rebo Rp 3.000, plus Pasar Rebo-Kampung Rambutan Rp 2.000. Total Rp 10.000. Hari ketiga, Rabu (9/2), dari Slipi ke Kampung Rambutan naik mikrolet M06 ditarik ongkos Rp 7.000. Hari keempat, Kamis (10/2), Slipi-Kampung Rambutan naik mikrolet M19 ongkosnya Rp 10.000.

Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, kenaikan ongkos gara-gara kelangkaan angkutan umum malam hari itu tentu memberatkan. “Apa pemerintah enggak mikir ya, kok langsung main hapus bus kota. Lha kalau pengeluaran saya jadi melonjak begini, terpaksa saya kembali ke sepeda motor,” kata Rudi ketika ditemui Warta Kota di mikrolet 09 dalam perjalanan Slipi-UKI, Senin (9/2) silam. Pria yang bekerja di Tanahabang itu tinggal di Pondokrangon. Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono, akan melakukan tindakan penertiban. "Angkot harus sesuai dengan rutenya," katanya. Dia menambahkan, pihaknya tengah mengupayakan bus reguler menjadi angkutan malam pengganti bus reguler di Jalan Grogol-Slipi-Kampung Rambutan yang dihapus terkait pengoperasian jalur busway koridor IX.
 
Sumber Berita: Warta Kota, 14/2/2011
 
http://www.wartakota.co.id/detil/berita/39223/Angkot-Jadi-Omprengan-Malam
 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine