SERPONG-MANGGARAI JADI ETALASE Cetak
Revitalisasi angkutan umum berbasis rel sudah amat mendesak.

Buat Nafi, mendapat tempat duduk dalam kereta ekspres Serpong-Manggarai adalah sebuah kemewahan. Berdiri berimpitan dengan para penumpang lain adalah menu sehari-hari pria yang menggunakan kereta itu sebagai sarana transportasi utama dari rumahnya, di Ciputat, ke kantornya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
 
Selain soal selalu penuhnya kereta, Nafi mengeluhkan jadwal keberangkatan kereta itu dari Serpong ataupun Manggarai, yang terbatas. Kalau pagi, dia harus benar-benar memperhatikan sekitar enam jam keberangkatan yang dilayani kereta jenis ini. Begitu juga untuk jam pulang."Ini merepotkan karena, kalau sampai tertinggal atau berangkat di luar jam-jam yang ada, saya harus menyambung angkutan lain dari Stasiun Tanah Abang ke kantor," katanya kemarin.

Revitalisasi jalur rel Serpong-Tanah Abang-Manggarai inilah yang kembali didorong Dewan Transportasi Kota Jakarta dalam sebuah diskusi di kantor Kementerian Perhubungan, Kamis pekan lalu. Serpong Line, begitu Dewan itu memberi label lintasan tersebut, dianggap pantas sebagai pilot project re vitalisasi angkutan umum berbasis rel secara umum sebagai pemecah masalah transportasi di Jakarta.

Dasar dorongan Serpong Line sebagai pilot project belum berubah sejak pertama kali dimunculkan pada Oktober tahun lalu, yakni gemuknya angka perjalanan di lintasan tersebut. Melintasi kantong-kantong permukiman, seperti Serpong, Bumi Serpong Damai, Bintaro, dan Ciputat, serta kawasan perdagangan Tanah Abang dan kawasan perkantoran Jalan Sudirman, kereta di jalur ini biasa mengangkut hingga 500 ribu penumpang per hari.
"Artinya, setahun bisa 180 juta orang," kata Direktur PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (KCJ) Bambang Wibiyanto.

Anggota DTKJ, Iskandar Abubakar, yang juga Inspektur Jenderal di Kementerian Perhubungan, memperkirakan biaya untuk merevitalisasi Serpong Line sebesar Rp 1,5 triliun dengan target pelaksanaan satu tahun."Tentunya dengan kebersamaan antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan sektor swasta, proyek ini bisa terealisasi,"kata Iskandar.

Dengan masalah kemacetan di Jakarta yang kronis, yang diperkirakan telah menimbulkan kerugian Rp 20 triliun setiap tahunnya, Ketua DTKJ Azas Tigor Nainggolan menyatakan revitalisasi sudah amat mendesak dilakukan. Bam SER bang, selaku pimpinan otoritas yang mengatur perlintasan kereta di Jabotabek, sudah menyatakan ikut dalam proyek ini. Begitu pula penguasa Jakarta, Gubernur Fauzi Bowo. "Usulan ini harus ditindaklanjuti," kata Fauzi, Jumat pekan lalu. 
 
Sumber berita: Koran Tempo, 16 Februari 2011
Link: http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2011/02/16/index.shtml?ArtId=141_020&Search=Y 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine