Jam Operasional Bakal Ditambah Cetak
JAKARTA(SINDO) – Jam operasional bus Transjakarta di koridor ramai bakal ditambah hingga pukul 23.00 WIB.Saat ini Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta sedang mengkaji rencana tersebut. Kepala BLU Transjakarta M Akbar mengatakan, rencana penambahan jam operasional bus Transjakarta saat ini masih dalam kajian. Sebab, penambahan jam operasional tidak bisa sembarangan.“Memang ada beberapa koridor yang sangat ramai hingga malam hari,”katanya. Dia menegaskan,penambahan jam operasional harus melihat dan mempelajari segala keperluan untuk kebijakan tersebut.
 
Saat ini pihaknya sedang menghitung kebutuhan perawatan bus, pembagian shift kasir, sopir, serta petugas keamanan. Untuk perawatan bus saja,BLU hanya mempunyai waktu sekitar lima jam karena setelah selesai beroperasi yaitu pukul 22.00 WIB bus baru sampai ke poolpukul 23.00 WIB dan harus kembali pukul 04.00 WIB serta mulai beroperasi kembali pukul 05.00 WIB. Sedangkan untuk staf mulai dari kasir hingga petugas keamanan harus memikirkan jam kerja. 

“Sekarang saja sudah ada dua shift,satu shiftnya itu delapan jam, jadi itu yang sedang kita pelajari juga,” jelasnya. Selain itu, biaya operasionalnya juga akan dihitung apakah sepadan atau tidak dengan penumpang yang diangkut. Sementara, sejak enam trayek bus reguler yang bersinggungan dengan bus Transjakarta koridor IX (Pinangranti–Pluit) dihapus,banyak omprengan plat hitam beroperasi malam hari.Bahkan,Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta tidak berdaya untuk melakukan penertiban. Rencananya,Dishub akan melakukan penertiban besarbesaran mulai hari ini. Kepala Dishub DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, akan mengerahkan personelnya untuk melakukan investigasi terhadap pengoperasian omprengan di sepanjang jalan tersebut.Hal ini perlu dilakukan mengingat saat ini pihaknya tengah berupaya mensterilkan rute tersebut dari angkutan lain selain bus Transjakarta. 

“Kalau bus regulernya sudah bersih tapi masih ada omprengan sama juga bohong,”ujarnya. Dalam penertiban ini, pihaknya hanya dapat melakukan berdasarkan aturan layanan penumpang. Sedangkan penggunaan plat hitam sebagai angkutan umum sepenuhnya menjadi tanggung jawab polisi.“Jelas, dari sisi apapun mereka melanggar karenanya harus ditertibkan,”ujarnya. Untuk itu,pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian terkait hal tersebut. Namun, penertiban terhadap omprengan plat hitam tidaklah sama dengan angkutan umum reguler lainnya. Penertiban terhadap omprengan akan lebih sulit dilakukan. 

Sebab, omprengan menyerupai kendaraan pribadi lainnya. Sehingga, kerap kucing-kucingan dengan petugas.Tidak hanya itu,jika ditempatkan petugas berseragam di lokasi, sangatlah sulit membuktikan kendaraan yang bersangkutan telah digunakan sebagai omprengan. “Kita akan kerahkan petugas pakaian preman pada jam-jam kerja terutama pada pagi dan sore sehingga para pelaku omprengan tersebut terus merasa terawasi,” tegasnya. Seperti diketahui, omprengan jurusan Cawang-Grogol mulai marak mengangkut penumpang di sepanjang Jalan MT Haryono,Gatot Subroto, dan S Parman.Hal ini terjadi lantaran banyaknya penumpang yang sebelumnya menggunakan bus reguler enggan menggunakan bus Transjakarta. 

Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengawasan dari petugas.Keengganan masyarakat menggunakan bus Transjakarta koridor IX lantaran waktu kedatangan bus masih belum maksimal.Akibatnya, pada jam sibuk pagi dan sore hari kerap terjadi penumpukan penumpang di halte. (helmi syarif)
 
Sumber berita: Seputar Indonesia, 21 Februari 2011
Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/382950/ 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine