Belum Ada Sosialisasi Pembebasan Lahan Cetak
Hingga Senin (21/2), warga di sekitar Stadion Lebak Bulus hingga kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, banyak yang belum tahu pasti tentang rencana penggusuran Stadion Lebak Bulus maupun sebagian lahan lain untuk proyek MRT.

”Saya baru lihat di televisi stadion mau digusur. Kalau di Cilandak, memang beberapa bulan lalu ada yang tanahnya dibeli pemerintah, tetapi belum tahu pasti untuk apa,” kata Wisnu, warga Cilandak Barat, Senin.

Sebelumnya, ahli tata kota Nirwono Joga mengatakan, orangtuanya yang tinggal di dekat Stadion Lebak Bulus juga belum tahu rencana penggusuran tersebut. Logikanya, jika stadion digusur, sebagian permukiman yang berdekatan dengan lapangan bola itu pasti juga turut terusik.

”Hal seperti ini kok tiba-tiba muncul di media. Apa tidak ada sosialisasi lebih dahulu dengan warga. Padahal, sosialisasi termasuk mengajak warga berdialog mutlak diperlukan dalam proyek besar seperti ini,” kata Nirwono.

Nirwono menilai ketidaktransparanan pemerintah dalam melaksanakan program pembangunannya bakal mengundang masalah di masa depan. ”Lihat saja perlawanan warga di kawasan Antasari yang tiba-tiba dibangun jalan layang. Sosialisasi yang dilakukan hanya sebatas pada pemberitahuan terkait teknis proyek tersebut. Tidak ada penjelasan yang rinci soal dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurut data dari Panitia Pengadaan Tanah untuk proyek MRT di Jakarta Selatan, baru 25 bidang tanah yang sudah dibebaskan di Kecamatan Cilandak. Proses pelepasan hak atas bidang tanah yang terkena proyek sebenarnya sudah mulai dilakukan pada Desember 2009.

Secara keseluruhan ada 282 bidang tanah yang harus dibebaskan di kecamatan ini, yaitu wilayah Lebak Bulus (60 bidang), Pondok Pinang (65 bidang), dan Cilandak Barat (157 bidang). Proyek MRT juga akan membutuhkan pembebasan lahan di kawasan Gandaria hingga Fatmawati.

Keputusan belakangan

Sementara itu, Rachmadi, Direktur Teknik dan Proyek MRT Jakarta mengatakan, pembebasan lahan Stadion Lebak Bulus memang keputusan belakangan. Hal itu terjadi karena pada rancangan awal MRT belum dipikirkan mengenai masalah depo dan tempat inap kereta. Setelah proyek MRT itu benar-benar akan diwujudkan, kebutuhan akan depo dan tempat inap kereta menjadi kebutuhan penting.

”Semula yang dipikirkan hanya stasiun. Jika hanya stasiun, lahan yang ada sudah cukup. Tetapi ternyata kami membutuhkan depo dan tempat inap kereta yang membutuhkan lahan yang panjang, bukan yang luas. Jadi Stadion Lebak Bulus dan sekitarnya yang semula diperkirakan tidak kena, ternyata harus dibebaskan,” kata Rachmadi, Jumat (18/2).

Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan 60 orang yang bekerja di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan akan tetap memiliki pekerjaan saat stadion sepak bola tersebut dibongkar. Mereka akan ditempatkan di stadion olahraga lainnya milik DKI Jakarta dan gelanggang olahraga remaja (GOR) yang ada di tingkat provinsi dan kecamatan.

Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) DKI Jakarta Ratiyono menegaskan, pihaknya tidak akan membiarkan begitu saja para pekerja yang telah lama bekerja di Stadion Lebak Bulus.

”Mereka telah berjasa merawat dan membuat nama Stadion Lebak Bulus menjadi terkenal. Saya pastikan mereka tidak akan menganggur saat stadion itu jadi dibongkar,” kata Ratiyono di Jakarta, Senin (21/2).

Dari 60 pekerja di Stadion Lebak Bulus, 10 orang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan 50 orang lainnya berstatus non- PNS atau pekerja lepas. ”Mereka akan kami fasilitasi untuk ditempatkan di stadion dan GOR yang ada. Apalagi bagi pekerja yang mempunyai keahlian tertentu, seperti ahli merawat rumput lapangan. Tentu mereka tidak akan kami lepas begitu saja,” kata Ratiyono.

Dia mengaku, Disorda DKI telah memberikan pemberitahuan kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Stadion Lebak Bulus untuk segera menyosialisasikan rencana pengalihan dan pembongkaran Stadion Lebak Bulus menjadi stasiun dan depo mass rapid transit (MRT).

”Saya harapkan tidak ada keresahan. Lagi pula pembongkarannya juga masih lama.” (NEL/ARN)

Sumber berita: Kompas, 22 Februari 2011
Link: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/22/04082966/belum.ada.sosialisasi..pembebasan.lahan 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine