Hilangnya Besi-besi Kami Cetak
Di antara fasilitas milik publik, koridor busway yang paling sering dipreteli.

Hilangnya besi besi yang dicuri yang menjadi bagian dari fasilitas publik di Ibu Kota sudah menjadi rahasia umum. Anak-anak tangga atau pelat lantai penyeberangan jalan yang hilang atau pagar pembatas jalan yang ompong alias tidak lengkap lagi bukanlah pemandangan baru. "Pagar-pagar di sini tak pernah awet. Selalu hilang," kata Luthfi, warga Tanah Abang. Endri, warga lainnya, justru mengkhawatirkan bagian yang hilang di jembatan penyeberangan jalan. "Tidak mungkin copot sendiri kalau hilangnya seperti itu," katanya sambil menunjuk bagian pelat-pelat baja yang seperti dipotong.

Kejadian hilangnya bagian pagar di sekeliling Tugu Monas hingga ribuan bilah mengungkap bahwa van dalisme seperti itu terjadi pula di tempat-tempat lain. Kepala Seksi Fasilitas Pendukung di Dinas Perhubungan DKI Benhard mengatakan pagar pembatas jalan, besi bypass, besi struktur jembatan penyeberangan jalan, dan perlengkapan dalam koridor-koridor busway adalah fasilitas publik yang biasa disasar oleh pencuri besi.

Belakangan, Benhard mengatakan, koridor busway menjadi properti favorit untuk dipreteli. Sepanjang 2010, biaya pemeliharaan yang telah dihabiskan untuk bolak-balik mendandani koridor-koridor tersebut sebesar Rp 3,5 miliar.

Untuk tahun depan, Benhard mengungkapkan, pemerintah setempat telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5 miliar khusus untuk memasang perlengkapan semua fasilitas transportasi yang hilang itu."Fasilitas yang paling sering dicuri berada di koridor IX dan X, terutama di haltehalte yang berada di Jakarta Timur dan Utara," katanya kemarin.

Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Pusat Nuraida Lievayanti mengaku sering direpotkan oleh ma salah yang sama. Dia mengatakan sarana di sejumlah taman di wilayahnya kerap dicuri."Tapi satu-satu dulu. Kami fokus yang di Monas dulu," katanya sambil menambahkan bahwa biaya perbaikan dan pengganti 3.600 bilah besi pagar Monas yang hilang itu senilai Rp 282 juta.

Benhard menambahkan, pihaknya telah beberapa kali mengundang kepolisian untuk membahas pengamanan terhadap fasilitas umum yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta. Dinas Perhubungan, Benhard mengakui, memiliki keterbatasan sumber daya manusia untuk melakukannya sendiri. "Beberapa kali kami memang melakukan pemeriksaan, tapi itu tidak bisa rutin,"katanya.

Dia mengungkapkan pihaknya akan mencoba mempersulit upaya-upaya perusakan dengan memasang setiap prasarana umum yang lebih kuat. Mungkin maksudnya paku dan baut yang lebih besar dan banyak, tapi entah apakah akan berhasil. Semoga saja.

NALIA RIFIKA | RENNY FITRIA SARI | WURAGIL
 
Sumber berita: Koran Tempo, 12 November 2010
Link: http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/11/12/index.shtml?ArtId=141_018&Search=Y 

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine