MRT Kuala Lumpur Pakai 13.000 Pekerja, Mayoritas Orang Indonesia Cetak
INSTRAN.org - Proyek pembangunan kereta Mass Rapid Transit (MRT) Kuala Lumpur fase I membutuhkan banyak tenaga kerja, karena rute MRT relatif panjang. 

Rute MRT fase I membentang sepanjang 51 kilo meter (km) yakni dari Sungai Buloh menuju Kajang. Setidaknya ada sekitar 13.000 pekerja kontruksi yang dilibatkan. Pekerja ini sebagian besar berasal dari Indonesia.

“Banyak orang Indonesia di proyek di sini. Mayoritas orang Indonesia,” kata Direktur Komunikasi dan PR MRT Corp Amir Mahmood Razak di Pusat Informasi MRT Corp di Kuala Lumpur, Kamis (23/1/2014).

Selain WNI, ada juga pekerja asal negara lain seperti China dan India. Pekerja ini dipekerjakan oleh 8 kontraktor yang menjadi sub kontraktor konsorsium MMC-Gamuda. Para pekerja asing ini juga memperoleh fasilitas gratis seperti asrama, cafetaria hingga pusat kebugaran gratis.

Pekerjaan MRT sendiri dilakukan selama 24 jam dan terbagi dalam beberapa shift. Proyek MRT fase I yang mulai kontruksi pada 8 Juli 2011 ini, ditargetkan bisa beroperasi dan melayani masyarakat pada 31 Juli 2017. Proyek ini menelan biaya hingga 23 miliar ringgit.

Jajak Pendapat 3 Bulan Sebelum Ground Breaking

Pemerintahan Malaysia melalui Land Public Transport Commission (SPAD) menyelenggarakan jajak pendapat atau polling sebelum proyek kereta Mass Rapid Transit (MRT) Kuala Lumpur dimulai. Selama 3 bulan, jajak pendapat dilakukan di beberapa titik. 

Cara ini dilakukan untuk menyerap masukan dan kritik dari masyarakat terhadap pembangunan proyek MRT. Cara ini merupakan prasyarat sebelum proyek kereta di Malaysia dimulai.

“Tiga bulan dilakukan public hearing di berbagai titik. Ada 7.000 feedback. Dari itu 90% setuju dan 10% nggak setuju. Kita dengarkan mereka,” kata Pelaksana Harian CEO MRT Corp Haris Fadzilah Hassan di Pusat Informasi MRT Corp di Kuala Lumpur, Kamis (23/1/2014).

Dari dengar pendapat dengan masyarakat ini, selanjutnya ditabulasi. Ketika ada penolakan, kemudian ada tindakan seperti pendekatan kepada penolak atau terjadi perubahan titik stasiun dan rute.

“Itu dari Februari sampai Mei 2011. Di sana mendengarkan masukan. Akhirnya ada rute dan stasiun berubah di beberapa titik,” sebutnya.

Pasca ground breaking (peletakan batu pertama) atau saat masa kontruksi. MRT Corp selaku pelaksana proyek MRT Kuala Lumpur juga membuka pusat pengaduan masyarakat. 

Masyarakat bisa mengirimkan kritik dan saran ke kontak suara. Nomer telpon kontak suara ini, dipasang pada setiap lokasi proyek MRT. Umumnya keluhan terkait kemacetan hingga suara bising dari proyek MRT.

“Ada complain management system. Ada telpon aduan atau hotline. Kalau ada masalah di-record. Kontraktor dapat semua komplain. Dengan hotline kita address langsung 24 jam,” terangnya.

Sumber Berita: Detik.com, Kamis, 23/01/2014 12:57 WIB

http://finance.detik.com/read/2014/01/23/125751/2475892/4/2/mrt-kuala-lumpur-pakai-13000-pekerja-mayoritas-orang-indonesia

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine