INSTRAN.org | NGO on Transport Issues

  • Indonesian
  • English
Baner
Tak Ada Jurus Sikut dan Gedor Pintu Kereta di Jepang PDF Cetak E-mail
INSTRAN.org - Berjejalan di dalam kereta, bukan hanya dialami penumpang KRL di Jabodetabek. Hal serupa juga dialami para pecinta kereta pada saat jam berangkat dan pulang kerja di Jepang.

Sama seperti di Jakarta, pada jam-jam sibuk itu, penumpang di dalam kereta di Jepang juga penuh. Meski tidak sampai membuat penumpang susah bernapas.

Bahkan, ada juga yang menggunakan jurus mendorong menggunakan badan, seperti penumpang KRL di Jabodetabek.

Bagi yang biasa menumpang KRL jurusan Bogor-Jakarta pada pagi hari, atau Jakarta-Bogor pada sore hari, pasti tahu rasanya saling mendorong di dalam kereta, atau pas mau naik kereta. 

Contohnya saja di Stasiun Sudirman saat jam pulang kerja. Di peron, penumpang sudah penuh berjejal. Tak ada ruang buat penumpang yang hendak turun kereta.

Ketika kereta berhenti untuk menaikturunkan penumpang, aksi dorong terjadi. Penumpang yang hendak turun harus menggedor-gedor pintu kaca KRL agar diberi jalan oleh ratusan penumpang yang sudah memenuhi peron.

Syukur jika diberi jalan. Biasanya, penumpang turun kalah terdorong oleh penumpang yang masuk ke dalam kereta bak air bah. 

Tak peduli sudah penuh, beberapa di antara mereka tetap memaksa masuk.

"Masuk lagi dong, masih kosong tuh...." Begitu biasanya mereka berteriak.

Padahal, di dalam kereta sudah penuh oleh penumpang dari stasiun-stasiun sebelumnya, seperti Tanah Abang dan Karet. Badan susah bergerak, kadang juga membuat penumpang semaput.

Biasanya, penumpang yang memaksa masuk itu akan menggunakan badannya untuk mendorong masuk penumpang lain di dalam. Badannya menghadap keluar dan tangan  berpegangan di atas frame pintu. 

Kemudian, dengan kekuatannya, dia mendorong penumpang lain dengan menggunakan badan, bahkan bokongnya.

Dorongan tersebut biasanya berhasil membuat dia selamat ikut terangkut dalam kereta, meski nempel pada pintu otomatis. 

Sementara, penumpang yang sudah empet-empetan di dalam kereta, semakin sulit bergerak.

PR selanjutnya adalah turun dari kereta. Berjejalan di dalam membuat penumpang harus berjuang menuju pintu keluar jika sudah mendekati stasiun tujuan.

Ada yang meminta baik-baik, ada juga yang menggunakan jurus sikut. Kalau sudah begitu, siap meringislah yang kena sikut. Atau menyikut balik sambil mengomel.

Di Jepang, ada juga sih penumpang "memaksa" penumpang lain memberi ruang untuknya. Namun, tidak sesadis penumpang KRL kita. 

Mereka masih lebih sopan, tidak sampai membuat penumpang lain susah bernapas. Tidak juga membuat penumpang lain meringis.

Pada Selasa (17/11/2915) sekitar pukul 20.30 waktu Jepang, Kompas.com sempat merasakan berdesakan di dalam kereta dari Stasiun Shinagawa, Keihintohoku Line, jurusan Stasiun Tsurumi.

Antrean penumpang di peron juga tak kalah banyak. Sebagian besar berpakaian rapi seperti jas dan berdasi.

Tidak seperti penumpang KRL kita, mereka berbaris rapi di belakang garis kuning dan di samping. Bukan tepat di depan pintu kereta yang akan terbuka.

Penumpang dari dalam gerbong mendapat kesempatan turun lebih dulu, sementara penumpang yang akan naik memberi jalan.

Ketika kereta berhenti dan pintunya terbuka, penumpang dari dalam yang berdiri berjejalan di depan pintu, otomatis keluar ikut mengantre bersama penumpang yang akan naik. Sehingga, penumpang yang turun tidak terhalang.

Setelah tak ada lagi penumpang yang turun, penumpang yang mengantre dan yang memberi jalan segera masuk ke dalam kereta. Penumpang kembali penuh hingga batas pintu kereta.

Beberapa yang melihat tidak ada kemungkinan masuk melalui pintu itu, akan mencari pintu lain yang masih memungkinkan dirinya bisa masuk ke dalam kereta.

Namun, ada juga yang masih nekat memaksa masuk. Ya itu, mereka menggunakan bagian belakang badan mereka untuk mendorong penumpang lain. 

Seperti yang dilakukan seorang pria yang memaksa masuk, padahal tas jinjing yang dibawanya nyaris terjepit pintu yang menutup. 

Dia pun mendorong tubuhnya ke belakang, membuat penumpang di belakangnya terpaksa mundur. Syukur pintunya otomatis, sehingga tas tersebut selamat dari himpitan. 

Disiplin

Hal serupa juga terlihat saat Kompas.com berada di subway Stasiun Shibakoen, Mita Line. Penumpang yang berjejal di peron tetap memaksa masuk meski di dalam kereta sudah penuh. 

Lagi-lagi mereka bisa membuat penumpang lain mundur untuk memberinya sedikit ruang berdiri di depan pintu.

Menurut salah seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang, Mr Horas, kejadian ini biasa terjadi pada saat jam berangkat kerja dan pulang kerja. 

Apalagi, sebanyak 2 juta lebih penduduk Jepang mengandalkan kereta sebagai moda transportasi setiap hari.

"Meski sedikit memaksa, tetapi tidak pernah ada benturan antarpenumpang di sini," kata Horas.

Menurut dia, kedisiplinan penumpang di Jepang sangat tinggi. Mereka mengantre pada tempatnya, tanpa perlu diawasi. Termasuk memberi jalan kepada penumpang yang hendak keluar. 

Jadi, tak ada penumpang yang menggedor-gedor kaca pintu hanya untuk diberi jalan keluar. Tak ada juga penumpang yang menyikut penumpang lain hanya untuk bisa menuju pintu.

"Kuncinya hanya disiplin dan kesadaran diri orang Jepang," kata Horas.

Sumber Berita: Kompas.com, Rabu, 18 November 2015 | 07:51 WIB

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/11/18/07513131/Tak.Ada.Jurus.Sikut.dan.Gedor.Pintu.Kereta.di.Jepang?page=3

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine
 

Sudah beredar

Baner
Penulis : Darmaningtyas Tebal buku : xxi+344 hal Penerbit : INSTRAN-Pustaka Yashiba Harga : Rp.50.000; Pemesanan via pos ditambah ongkos kirim sesuai ketentuan tarif. Hub: Ratim/Nova, 021-79197057

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini248
mod_vvisit_counterKemarin2031
mod_vvisit_counterMinggu ini248
mod_vvisit_counterBulan ini40476
mod_vvisit_counterSemua3911257
Terima kasih atas kunjungannya

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Download Buku

 

 

 

 

 

 

 

Download

 

 

 

 

 

 

 

Download