INSTRAN.org | NGO on Transport Issues

  • Indonesian
  • English
Baner
Brebes-Tegal Lumpuh Total PDF Cetak E-mail

 

Ruas pantai utara (pantura) Jawa Tengah, terutama kawasan Brebes dan Tegal, menjadi jalur neraka bagi pemudik. 

 

 


Kemacetan parah sejak Jumat (1/7) terus berlanjut hingga tadi malam tanpa bisa terurai. Antrean kendaraan tak hanya terjadi di jalan utama, tetapi juga seluruh rute alternatif. Di jalur selatan, Garut menjadi titik macet terburuk. Hingga tadi malam, kemacetan panjang mewarnai jalur Bebes, Tegal, Pemalang hingga Pekalongan. Antrean di jalan tol Kanci-Pejagan- Brebes Timur bahkan mencapai lebih dari 30 km. Ribuan kendaraan nyaris tak bergerak. 

Jika sanggup melaju, itu pun dengan kecepatan rata-rata 1-3 km/jam. Di tengah situasi yang tak pasti, jalur tol seolah menjadi area parkir yang sangat panjang. Banyak pengendara memilih mematikan mesin mobil dan keluar dari kendaraan.” Saya sudah4jamtapibaru menempuh perjalanan 4 km,” ujar Lukman, pemudik asal Pamulang, Tangerang Selatan, tujuan Grobogan, Jawa Tengah, kemarin. 

Pengalaman pahit juga dirasakan Imam, 32, yang terjebak kemacetan di ruas tol Pejagan-Brebes Timur sejak Sabtu (3/7) malam sekitar pukul 22.00 WIB dan baru bisa mencapai jalur pantura Kota Tegal keesokan harinya (Sabtu). ”Dua jam hanya bisa jalan 500 meter,” ujarnya. Imam yang mudik dari Cilegon menuju Malang menyebut kemacetan arus mudik tahun ini lebih parah daripada tahun lalu meskipun tahun ini sudah ada tol Pejagan- Brebes Timur. Menurut dia, meskipun tahun lalu juga macet, beberapa jalur alternatif masih relatif longgar. 

”Keberadaan tol Brebes Timur bukan solusi, malah tambah parah macetnya. Tahun lalu tak separah ini. Ini sudah 24 jam lebih baru sampai Tegal,” keluhnya. Hal senada diungkapkan Sukiman, 50, pemudik yang hendak menuju Jember, Jawa Timur, dari Cikarang, Bekasi. Dia harus menghabiskan waktu lebih dari 12 jam untuk bisa menembus pintu keluar tol Brebes Timur. Kemacetan di jalur pantura Brebes terpantau sejak memasuki perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, tepatnya di wilayah Losari. 

Kendaraan roda empat dan roda dua bertemu dalam dua jalur menyebabkan penumpukan. Kondisi ini memaksa sebagian pemudik untuk memutar balik arah kendaraan dan mencari jalur alternatif. Ada satu jalur alternatif yang kemudian digunakan para pemudik, yakni melalui Ciledug, Kersana, Ketanggungan, Slawi, dan berakhir di Tegal Kota. Jalur alternatif itu memberi secercah harapan bagi pemudik untuk menghindari kemacetan parah di dalam Kota Brebes. Namun jalur alternatif ini pun ternyata tidak menyelesaikan persoalan. Rute ini juga macet parah. 

Di Kersana-Ketanggungan, jalan beton yang tadinya untuk dua lajur terpaksa diubah menjadi satu lajur saja ke arah Ketanggungan. Hal sama terlihat di ruas jalan Bulakamba, Klampok, Jalan Gajahmada, pintu keluar tol Brebes Timur, dan Jalan Pemuda hingga memasuki Kota Tegal. Kemacetan kian parah, terutama di pintu keluar tol Brebes Timur. 

Jarak Brebes ke Tegal yang normalnya dapat ditempuh dalam waktu tak sampai 1 jam harus ditempuh para pemudik hingga 4 jam. Salah seorang pemudik yang menggunakan mobil pribadi, Sair, hanya bisa pasrah menghadapi keadaan. ”Hari Sabtu jam 9 malam sampai Losari, ini jam 10 pagi baru sampai Tegal,” keluhnya. Di Kota Tegal, kemacetan terlihat sejak dari Jembatan Kaligangsa hingga perbatasan Kabupaten Tegal atau sekitar 15 km. 

Kemacetan di antaranya terpantau di Jalan Kolonel Sugiono, Jalan dr Sutomo, dan Jalan Gajahmada. Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti mengakui pintu keluar tol Brebes Timur menjadi simpul kemacetan arus mudik tahun ini. Kemacetan sesungguhnya sudah diprediksi, tetapi lonjakan kendaraan menjadikan tol sangat padat. Selain itu, seluruh jalur yang bisa dipergunakan untuk rekayasa lalu lintas berujung kembali menuju jalur tol Brebes Timur. Menurut Badrodin, untuk memecah kemacetan, polisi berupaya mengalihkan kendaraan ke jalur Cikopo. 

Jika terjadi penumpukan di jalur Cikopo dialihkan lagi ke jalur arteri. Namun ujung dari jalur arteri itu kembali masuk ke jalur tol Brebes Timur. ”Sehingga tidak bisa memang menghindari (kemacetan) itu,” kata Badrodin. Kasat Lantas Polres Brebes AKP Arfan Zulkan Sipayung mengatakan, kemacetan panjang pada arus mudik tahun ini karena lonjakan kendaraan. Di sisi lain, kondisi ruas jalan utama tak mengalami perubahan kapasitas. 

Menurut dia, lonjakan kendaraan pemudik pada dua hari terakhir didominasi sepeda motor. Berbeda pada saat H-6 Lebaran yang didominasi mobil pribadi. ”Kemungkinan karena seluruh pekerja sudah libur seluruhnya,” ujar dia. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Pudji Hartanto mengakui kemacetan terjadi merata di jalur mudik tol maupun nontol, terutama di Brebes dan Kota Tegal. Salah satu pemicu kemacetan itu karena tidak adanya jalan-jalan lain untuk menampung lonjakan kendaraan pemudik yang keluar dari tol. 

”Kepolisian sudah melakukan langkah-langkah rekayasa lalu lintas, salah satunya dengan contra-flow walaupun memang kemacetan masih terjadi,” ujar Pudji. Sementara itu, kemacetan juga terjadi di jalur utama selatan Jawa Barat. Arus lalu lintas kendaraan di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, menuju Limbangan maupun Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya bisa bergerak merambat. Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, polisi berupaya memberlakukan satu arah jalan dari barat ke timur untuk memecah kemacetan. 

Menurutnya simpul kepadatan arus kendaraan antara lain berada di Pasar Limbangan. ”Laju kendaraan menuju Tasikmalaya terhambat aktivitas pasar dan terminal,” kata dia. Titik lainnya di jalur Kadungora ada perpotongan arus kendaraan di persimpangan arah Garut, kemudian adanya perlintasan kereta api. Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil meminta jajaran Polri dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersinergi dalam memberikan pelayanan kepada para pemudik, termasuk memastikan segi keamanan dan keselamatan. 

Nasir berharap jajaran Polri yang tengah bertugas di lapangan tak segan-segan menindak pemudik yang melanggar dan membahayakan pemudik lain. Nasir mengakui, mengatasi kemacetan saat mudik bukan perkara yang mudah. ”Kendati demikian Polri dan Kemenhub serta jajaran lainnya tidak bisa berlepas tangan,” sebutnya. 

Farid firdaus/ abdul hakim/nugroho/usep husaini/sindonews/ant 

 

 

Sumber: Koran Sindo, 4 Juli 2016

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=0&date=2016-07-04

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine
 

Sudah beredar

Baner
Penulis : Darmaningtyas Tebal buku : xxi+344 hal Penerbit : INSTRAN-Pustaka Yashiba Harga : Rp.50.000; Pemesanan via pos ditambah ongkos kirim sesuai ketentuan tarif. Hub: Ratim/Nova, 021-79197057

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini250
mod_vvisit_counterKemarin2031
mod_vvisit_counterMinggu ini250
mod_vvisit_counterBulan ini40478
mod_vvisit_counterSemua3911259
Terima kasih atas kunjungannya

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Download Buku

 

 

 

 

 

 

 

Download

 

 

 

 

 

 

 

Download